Friday, March 25, 2011

Stress adalah Kehilangan Pengharapan Tuhan

Mazmur 42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Setiap manusia normal pasti pernah mengalami kegelisahan dan tekanan dalam jiwanya atau dengan kata lain pernah mengalami yang namanya stress. Namun jika sampai berlebihan, itu adalah hal yang sangat tidak baik dan menunjukkan bahwa orang yang mengalaminya tidak punya pengharapan kepada Tuhan.

Musa dan Daud adalah dua orang yang pernah mengalami tekanan berat dalam hidupnya. Musa menghadapi tekanan berat dari orang-orang Israel yang dipimpinnya yang selalu menuntut ini dan itu serta bersungut-sungut. Sementara Daud menghadapi tekanan berat ketika di kejar-kejar oleh Saul. Daud harus pindah sana dan sini untuk menghindari Saul dan hal itu membuat jiwanya tertekan. Namun Musa dan Daud mempuyai sikap yang berbeda dalam menghadapi tekanan itu. Musa tidak mau dikuasai oleh tekanan jiwanya sementara Daud pernah di kuasai oleh tekanan jiwanya sampai ia tidak punya pengharapan kepada Tuhan.

Musa tahu bahwa stress dapat membuat ia kehilangan pengharapan kepada Tuhan oleh sebab itu ketika tekanan dan kegelisahan mulai menghampirinya, Musa mengarahkan pikirannya kepada Tuhan. Ia senantiasa ingat akan Tuhan, ingat akan segala mujizat dan keperkasaan yang dilakukan oleh Tuhan dan hal itu sangat menghibur hatinya dan menghalaukan segala kegelisahan dan tekanan yang mencoba menghampirinya. Hal itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Mazmur 94:19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.

Sementara Daud pernah melakukan hal yang sebaliknya. Ketika menghadapi tekanan yang berat Daud tidak mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Ia tidak mengingat bagaimana tangan Tuhan yang perkasa menolongnya ketika menghadapi Goliath. Ia tidak mengingat bagaimana tangan Tuhan menghalaukan musuhnya yang berlaksa-laksa dari hadapannya dan hal itulah yang membuat Saul iri hati sehingga ingin membunuhya. Justru Daud membiarkan dirinya dikuasai oleh tekanan itu yang mengakibatkan ia semakin gelisah dan kehilangan pengharapan kepada Tuhan. Ketika Daud kehilangan pengharapan, ia mengambil tindakan sendiri dan tidak bertanya kepada Tuhan. Ia pergi ke daerah Gat dan berpura-pura menjadi orang gila. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah.

I Samuel 21:12-13 Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu. Sebab itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya.

Namun Syukurlah karena Daud tidak meneruskan perbuatannya itu sebab bisa saja ia menjadi gila benaran jika ia meneruskannya. Pada pasal selanjutnya dari kitab I Samuel kita akan menemukan bahwa Daud kembali mengarahkan pandangannya dan berharap kepada Tuhan.

Jadi apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini? Pelajaran yang dapat kita ambil adalah Jangan biarkan tekanan dan kegelisahan menguasai kita. Ketika tekanan dan kegelisahan datang ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang pernah terjadi dalam hidup kita dan berharaplah pada-Nya maka penghiburan yang dari Tuhan akan menenangkan jiwa kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

No comments:

Post a Comment